KRP LIPI - Kebun Raya Purwodadi LIPI

Di Kutip Oleh : Redaksi PUBinfo

Tentang Kebun Raya Purwodadi

Kebun Raya adalah suatu kawasan yang mengkoleksi berbagai jenis tumbuhan. Tumbuhan yang dikoleksinya memiliki dasar ilmiah. Informasi ilmiah mengenai koleksinya terdokumentasi dengan baik. Fungsi dari Kebun Raya adalah sebagai tempat konservasi ex-situ, tempat penelitian, tempat pendidikan lingkungan, dan tempat wisata. Dibawah naungan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Kebun Raya Purwodadi bersama ketiga kebun raya lainya terus berusaha berbenah diri untuk meningkatkan kualitas penelitian, memperbanyak kegiatan pendidikan dan mempercantik diri guna sebagai tempat wisata masyarakat.

Kebun Raya Purwodadi didirikan pada awal tahun 1941 yaitu sebelum kemerdekaan. Awalnya kebun ini hanya untuk tanaman perkebunan, namun kini terus berkembang dan memeiliki lebih dari 10.000 jenis tanaman. Kami memiliki cita-cita menjadi kebun raya terkenal dan bermanfaat di dunia.

Sejarah

Kebun Raya Purwodadi yang juga dikenal dengan nama Hortus Ilkim Kering Purwodadi didirikan pada tanggal 30 Januari 1941 oleh Dr. L.G.M. Baas Becking. Kebun ini merupakan salah satu dari 3 cabang Kebun Raya Indonesia (Kebun Raya Bogor) yang memiliki tugas dan fungsi mengkoleksi tumbuhan yang hidup di dataran rendah kering. Kebun Raya Purwodadi merupakan Unit Pelaksana Teknis yang bernaung dibawah dan bertanggung jawab kepada Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati-LIPI (Lembaga IImu Pengetahuan Indonesia).



Johannes Viets adalah orang Belanda pertama yang memimpin Kebun Raya Purwodadi yaitu pada tahun 1941-1942, dengan pengangkatannya sebagai pimpinan pada tanggal 30 Januari 1941. J. Viets telah meletakkan pola-pola dasar pengembangan kebun raya, walaupun Ia tidak dapat berbuat banyak dalam membangun kebun, karena pada tahun 1942 terjadi penyerbuan bala tentara Jepang ke Indonesia. Peristiwa ini menyebabkan berakhirnya masa kepemimpinan bangsa Belanda di lembaga-lembaga pemerintahan di Indonesia. Pada Tahun 1943, Kebun Raya Purwodadi dipimpin oleh bangsa Jepang, yaitu Tanaka. Pada masa kepemimpinannya, Tanaka membangun jalan utama yang membelah kebun menjadi dua, serta jalan-jalan lain dari arah utara ke selatan. Setelah masa kemerdekaan sampai saat ini, Kebun Raya Purwodadi dipimpin oleh bangsa Indonesia sendiri kecuali pad tahun 1945-1954, yaitu oleh seorang Belanda H.O. van Leusen. Moestopo (1945-1949) adalah orang Indonesia pertama yang memimpin Kebun Raya Purwodadi. Pada mulanya, kebun ini dipergunakan untuk kegiatan penelitian tanaman perkebunan kemudian pada tahun 1954 mulai diterapkan dasar-dasar perkebunrayaan yaitu dengan dimulainya pembuatan petak-petak tanaman koleksi. Kebun Raya Purwodadi untuk pertama kalinya dibuka untuk umum pada masa kepemimpinan Sarwana. Peresmian pembukaan tersebut dilakukan pada tanggal 10 Maret 1963. Setelah pembukaan Kebun Raya untuk umum, pembangunan sarana fisik dan pembangunan sistem pengelolaan kebun semakin digalakkan. Sejak tahun 1980 sebagian tanaman ditata kembali menurut kelompok suku yang menganut sistem klasifikasi Engler dan Prantl. Penyempurnaan vak koleksi, pembangunan gedung kantor, penambahan koleksi melalui eksplorasi, pertukaran biji menjadi program pimpinan Kebun Raya Purwodadi selanjutnya. Dalam perkembangannya UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi diharapkan akan menjadi pusat konservasi dan penelitian tumbuhan dataran rendah kering Indonesia.

Visi dan Misi

Visi

Menjadi kebun raya berkelas dunia di bidang konservasi dan penelitian tumbuhan tropika dataran rendah kering, pendidikan lingkungan dan pariwisata.

Misi

  • Mengkonservasi keanekaragaman tumbuhan dataran rendah kering tropika, khususnya tumbuhan dataran rendah kering Indonesia;
  • Mengembangkan penelitian di bidang keanekaragaman & pendayagunaan tumbuhan dataran rendah kering Indonesia, serta pemulihan tumbuhan Indonesia yang terancam punah dan langka;
  • Meningkatkan kesadaran & pengetahuan masyarakat tentang keanekaragaman tumbuhan dan peran vitalnya bagi kehidupan manusia, serta pentingnya upaya untuk mengkonservasi keanekaragaman tersebut;
  • Meningkatkan kualitas pelayanan publik di bidang kepariwisataan;
  • Mewujudkan manajemen kelembagaan yang kuat, efektif dan akuntabel, untuk mendukung pencapaian visi lembaga.

Tujuan

  1. Meningkatkan pengelolaan koleksi dan data ilmiah perkebunrayaan
  2. Meningkatkan upaya konservasi tumbuhan langka,endemic,bernilai ekonomi dan bernilai ilmu pengetahuan
  3. Meningkatkan penelitian dan pengembangan di bidang botani, konservasi, dan hortikultura dalam rangka konservasi dan pendayagunaan tumbuhan

 

Sumber : krpurwodadi.lipi.go.id