Imbas Corona, Inflasi Melambat Jadi 0,08 Persen pada April

By PUBinfo Redaksi 04 Mei 2020, 12:52:20 WIB | dibaca : 776 pembaca

Imbas Corona, Inflasi Melambat Jadi 0,08 Persen pada April

Foto: Ilustrasi

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat atau inflasi sebesar 0,08 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada April 2020. Inflasi lebih rendah dari 0,1 persen pada Maret 2020 dan dari 0,44 persen pada April 2019.

Sementara inflasi secara tahun berjalan (year-to-date/ytd) sebesar 0,84 persen. Sedangkan secara tahunan (year-on-year/yoy) mencapai 2,67 persen pada April 2020.

"Inflasi ini tidak biasa dari pola sebelumnya, biasanya memasuki ramadan inflasi meningkat, sekarang melambat menjadi 0,08 persen. Begitu juga dengan inflasi yoy sebelumnya 2,83 persen menjadi 2,67 persen. Ini karena kondisi yang tidak biasa di tengah pandemi covid-19," ujar Kepala BPS Suhariyanto, Senin (4/5).

Suhariyanto mengatakan inflasi tertinggi berasal dari kelompok perawatan pribadi dan lainnya dengan andil 0,07 persen dan inflasi 1,2 persen. Sumbangan inflasi utamanya berasal dari kenaikan harga emas.

"Terjadi kenaikan harga emas di 87 kota, misalnya di Semarang mencapai 16 persen," ungkapnya.

Sumbangan inflasi lain juga berasal dari inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau 0,09 persen dengan andil 0,02 persen. Andil inflasi utamanya berasal dari bahan pangan.

"Inflasi dari bawang merah andil 0,08 persen, gula pasiar 0,02 persen, minyak goreng, rokok kretek, rokok putih, dan beras andilnya 0,01 persen," katanya.

Kendati begitu, ada penurunan harga sehingga menyumbang deflasi di antara cabai merah andilnya 0,08 persen, daging ayam ras 0,05 persen, dan bawang putih 0,02 persen.

Inflasi terbesar juga terjadi di kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,09 persen dengan andil 0,02 persen. Begitu juga dengan kelompok perlengkapan peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,09 persen dengan andil 0,01 persen.

Andil inflasi tinggi juga berasal dari kelompok kesehatan sebesar 0,01 persen dengan inflasi 0,23 persen. Lalu, inflasi kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,18 persen dengan andil 0,02 persen.

Kemudian, inflasi kelompok pakaian dan alas kaki 0,04 persen dengan andil nol persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya 0,03 persen dengan andil nol persen, dan kelompok pendidikan nol persen dengan andil nol persen.

Sementara inflasi kelompok transportasi dan informasi, komunikasi, dan jasa keuangan justru deflasi. Deflasi kelompok transportasi mencapai 0,42 persen dengan andil minus 0,05 persen dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan deflasi 0,09 persen dengan andil minus 0,01 persen.

"Ini terjadi karena ada larangan PSBB dan mudik, sehingga permintaan kepada jasa angkutan udara menurun, misalnya di Manado dan Lhokseumawe itu tarif turun sampai 20 persen," jelasnya.

Berdasarkan komponennya, inflasi terjadi berkat sumbangan dari inflasi inti sebesar 0,17 persen dan andil 0,11 persen. "Umumnya berasal dari kenaikaan harga emas perhiasan dengan andil 0,06 persen," katanya.

Sedangkan komponen harga diatur pemerintah (administered price) deflasi 0,14 persen dan andil minus 0,02 persen. Lalu, komponen bergejolak (volatile foods) dengan deflasi 0,09 persen dan andil minus 0,01 persen.

Komponen volatile foods, terdiri dari komponen energi dengan inflasi 0,13 persen dan andil 0,01 persen serta komponen bahan makanan dengan deflasi 0,13 persen dan andil minus 0,02 persen.

Berdasarkan wilayah, inflasi terjadi di 39 kota dari 90 kota IHK. Sementara 51 kota lainnya mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi terjadi di Bau-bau sebesar 0,88 persen dan terendah di Cirebon, Depok, dan Balikpapan 0,02 persen. Sedangkan deflasi tertinggi di Pangkal Pinang sebesar 0,92 persen dan terendah di Bogor dan Semarang 0,02 persen.

"Pangkal Pinang karena penurunan tarif angkutan udara," tuturnya.

 

Sumber ; cnnindonesia.com