IDI Akan Uji Klinis Kalung Anti Corona Hasil Penelitian Kementan

By PUBinfo Redaksi 09 Jul 2020, 11:27:07 WIB | dibaca : 106 pembaca

IDI Akan Uji Klinis Kalung Anti Corona Hasil Penelitian Kementan

Foto: Ilustrasi

JAKARTA - Dalam upaya mencari solusi untuk menangani persebaran virus corona, Badan Penelitian Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian (Balitbangtan Kementan) melakukan kerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) bertujuan untuk kolaborasi penelitian lanjutan tanaman obat sebagai kandidat antivirus dan obat.

Dalam kesempatan ini, Menteri Pertanian (Mentan) Syharul Yasin Limpo mengungkapkan, kerja sama ini menandakan hasil penelitian Litbang Kementan ini akan dilanjutkan IDI untuk dilakukan uji klinis dan riset-riset lainnya sesuai prosedur. Melalui Balitbangtan, Kementan telah melakukan penelitian dan pengembangan awal untuk melahirkan varian dari produk eukaliptus (eucalyptus) sebagai jawaban terhadap kondisi bergelutnya masyarakat dengan wabah Covid-19.

“Sudah lima bulan negara kita diliputi tekanan akibat keberadaan virus. Oleh karena itu, kita tidak diam. Apa pun akan kita lakukan demi bangsa dan negara,” ujar Syahrul saat menyaksikan penandatanganan kerja sama tersebut di Kantor Kementan, Jakarta, kemarin.

Syahrul menegaskan, pihaknya memiliki balai penelitian yang menangani komoditas tanaman obat. Kementan juga memiliki Balai Besar Pascapanen. Selain itu, Kementan juga memiliki Balai Besar Veteriner yang memiliki fasilitas laboratorium yang memadai untuk meneliti virus. Fasilitas ini, kata dia, bisa dimanfaatkan oleh IDI untuk melakukan pengembangan riset dan uji klinis.

“Kami memiliki 300-an profesor dan peneliti yang kompeten, bahkan kami pernah berkontribusi dalam penanganan wabah flu burung. Tidak ada alasan bagi kita tidak membantu negara,” katanya.

Untuk itu, Syahrul berharap kerja sama ini dapat mempercepat penelitian tanaman eukaliptus agar bisa dimanfaatkan masyarakat luas dan membantu negara dalam menanggulangi wabah pandemi Covid-19. Penandatanganan MoU antara Badan Litbang Pertanian dan IDI ini merupakan sinergi lintas sektoral mendukung konsep one-health, kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan bagi masyarakat.

Syahrul mengatakan, dengan kerja sama ini, harapannya terdapat tahapan riset lanjutan yang dilakukan secara bersinergi sesuai kompetensi. “Litbang kami punya laboratorium untuk meneliti, lalu ada tanamannya, penelitinya juga ada. Kalau tidak bergerak, potensi ini akan percuma. Protokol kesehatan tetap dipakai dan ini ada pencegahan virusnya. Kita perlu uji lanjutan bersama IDI,” tegas Syahrul.

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar IDI Daeng M Faqih menyampaikan dukungannya terhadap penelitian dan pengembangan tanaman eukaliptus yang telah dilakukan oleh para peneliti Kementan.

“Kawan-kawan peneliti dari Kementan sudah melakukan penelitian awal, dan hasilnya menunjukkan baik. Kalau mau dipakai untuk pengobatan manusia dari hasil penelitiannya harus dilanjutkan. Ini yang dikerjasamakan, kita akan support,” ungkap Daeng di sela-sela penandatanganan MoU kemarin.

Daeng menegaskan, kerja sama ini merupakan awal kebangkitan kemandirian dengan penggalian potensi alam yang dimiliki bangsa Indonesia. Hal ini didasari bahan obat dan yang digunakan masyarakat saat ini mayoritas berasal dari impor sehingga apabila dapat diproduksi sendiri akan lebih baik.

“Ini murni berangkat dari kekayaan alam Indonesia. Ini yang strategis. Ini yang perlu didorong untuk menjawab kemandirian kita, dan IDI menganggap itu penting. Tonggak awal komitmen dan kemampuan, supaya kemandirian industri kesehatan tergerak. Kita nggak masalah munculnya dari mana. Kebetulan munculnya dari Kementan,” jelas Daeng. 

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Badan Litbang Pertanian Haris Sihabudin memberikan penjelasan terhadap varian produk eukaliptus yang telah dikembangkan Balitbangtan.

“Ada empat varian produk yang telah didaftarkan sebagai paten di Kemenkum HAM, formula aromatik antivirus, inhaler, serbuk, dan minyak atsiri eukaliptus,” papar Haris.

Sebagai informasi, Formula Aromatik Antivirus Berbasis Minyak Eucalyptus dengan nomor pendaftaran paten P00202003578, Ramuan Inhaler Antivirus Berbasis Eucalyptus dan Proses Pembuatannya dengan nomor pendaftaran paten P00202003574, Ramuan Serbuk Nanoenkapsulat Antivirus Berbasis Eucalyptus dengan nomor pendaftaran paten P00202003580, dan Minyak Atsiri Eucalyptus Citridora sebagai antivirus terhadap virus avian influenza subtipe H5N1, gammacorona virus, dan betacoronavirus.

Tekan Impor Obat

Daeng Muhammad Faqih menilai, penelitian Balitbangtan pada tanaman eukaliptus dapat mengurangi ketergantungan impor bahan obat. Oleh karena itu, ia menilai kerja sama ini akan menciptakan terobosan yang memberikan harapan dan dorongan terhadap Indonesia dalam memerangi wabah virus.

“Temuan kandungan pada tanaman eukaliptus oleh Balitbangtan telah menyadarkan kita bahwa kita kurang memanfaatkan produk dalam negeri yang kita olah sendiri,” katanya.

Menurut Daeng, selama ini alat kesehatan dan obat-obatan di Indonesia hampir seluruh produknya diimpor dari berbagai negara. Impor terbanyak dilakukan dari China dan India. Padahal, selama ini Indonesia merupakan negara agraris yang kaya akan tumbuhan.

Oleh sebab itu, Daeng berharap tanaman obat yang ada di Indonesia bisa dibudidayakan untuk penelitian dam riset lebih mendalam dan memastikan kesehatan masyarakat tidak terus bergantung pada bahan impor.

“Ini menjadi tantangan kita, apakah ingin tetap bergantung pada impor ataukah ingin memberi peluang pada obat hasil dari dalam negeri. Saya sudah bicara dengan Pak Mentan untuk mendorong kemandirian bangsa di bidang industri kesehatan dan di bidang pelayanan kesehatan. Mudah-mudahan kemandirian bangsa di bidang obat-obatan di Indonesia dapat dibantu dengan kontribusi sektor pertanian,” terangnya.

Lebih lanjut Daeng menekankan, dunia kesehatan sebenarnya banyak menggunakan bahan dari Indonesia. Namun, sampai sekarang belum dibudidayakan untuk dilakukan riset. “Untuk itu, kami siap menggali potensi bangsa supaya betul-betul dimanfaatkan di dalam industri kesehatan ataupun dalam pelayanan kesehatan,” cetusnya.

Menurut Daeng, ada dua hal penting yang ingin dilakukan. Pertama, berkomitmen untuk mendorong semua inovasi yang berbasis riset anak bangsa dan harus didorong dan diteliti dengan baik. Kedua, supaya memberikan manfaat dari hasil riset kepada bangsa dan memanfaatkan sebesar-besarnya tantangan dan peluang yang sedang dihadapi.

“Barangkali sekarang inilah saatnya peluang kita bisa gali dan dorong penelitian dalam negeri supaya nantinya bisa dimanfaatkan oleh banyak masyarakat,” katanya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Hasan Aminuddin mengungkapkan upaya Kementan ini. Bahkan Hasan Aminuddin mendesak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk menindaklanjuti hasil temuan Kementan ini.

“Kementan dan Kemenkes ini harus segera melakukan sinkronisasi. Kalau memang produk ini sedang dibutuhkan oleh dunia kesehatan, ya harus secepatnya dilakukan (sinkronisasi) itu,” kata Hasan Aminuddin di sela Rapat Kerja Komisi IV DPR bersama Menteri Pertanian di Gedung DPR/MPR Senayan, Jakarta, Selasa (7/7/2020).

 

Sumber : sindonews.com

JAKARTA - Dalam upaya mencari solusi untuk menangani persebaran virus corona, Badan Penelitian Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian (Balitbangtan Kementan) melakukan kerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) bertujuan untuk kolaborasi penelitian lanjutan tanaman obat sebagai kandidat antivirus dan obat.

Dalam kesempatan ini, Menteri Pertanian (Mentan) Syharul Yasin Limpo mengungkapkan, kerja sama ini menandakan hasil penelitian Litbang Kementan ini akan dilanjutkan IDI untuk dilakukan uji klinis dan riset-riset lainnya sesuai prosedur. Melalui Balitbangtan, Kementan telah melakukan penelitian dan pengembangan awal untuk melahirkan varian dari produk eukaliptus (eucalyptus) sebagai jawaban terhadap kondisi bergelutnya masyarakat dengan wabah Covid-19.

“Sudah lima bulan negara kita diliputi tekanan akibat keberadaan virus. Oleh karena itu, kita tidak diam. Apa pun akan kita lakukan demi bangsa dan negara,” ujar Syahrul saat menyaksikan penandatanganan kerja sama tersebut di Kantor Kementan, Jakarta, kemarin.



Syahrul menegaskan, pihaknya memiliki balai penelitian yang menangani komoditas tanaman obat. Kementan juga memiliki Balai Besar Pascapanen. Selain itu, Kementan juga memiliki Balai Besar Veteriner yang memiliki fasilitas laboratorium yang memadai untuk meneliti virus. Fasilitas ini, kata dia, bisa dimanfaatkan oleh IDI untuk melakukan pengembangan riset dan uji klinis. (Baca: Fahry Hanzah: Jangan Ejek Kalung Anti-Corona, Suruh Cek Biofarma)

“Kami memiliki 300-an profesor dan peneliti yang kompeten, bahkan kami pernah berkontribusi dalam penanganan wabah flu burung. Tidak ada alasan bagi kita tidak membantu negara,” katanya.

Untuk itu, Syahrul berharap kerja sama ini dapat mempercepat penelitian tanaman eukaliptus agar bisa dimanfaatkan masyarakat luas dan membantu negara dalam menanggulangi wabah pandemi Covid-19. Penandatanganan MoU antara Badan Litbang Pertanian dan IDI ini merupakan sinergi lintas sektoral mendukung konsep one-health, kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan bagi masyarakat.

Syahrul mengatakan, dengan kerja sama ini, harapannya terdapat tahapan riset lanjutan yang dilakukan secara bersinergi sesuai kompetensi. “Litbang kami punya laboratorium untuk meneliti, lalu ada tanamannya, penelitinya juga ada. Kalau tidak bergerak, potensi ini akan percuma. Protokol kesehatan tetap dipakai dan ini ada pencegahan virusnya. Kita perlu uji lanjutan bersama IDI,” tegas Syahrul.

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar IDI Daeng M Faqih menyampaikan dukungannya terhadap penelitian dan pengembangan tanaman eukaliptus yang telah dilakukan oleh para peneliti Kementan.

“Kawan-kawan peneliti dari Kementan sudah melakukan penelitian awal, dan hasilnya menunjukkan baik. Kalau mau dipakai untuk pengobatan manusia dari hasil penelitiannya harus dilanjutkan. Ini yang dikerjasamakan, kita akan support,” ungkap Daeng di sela-sela penandatanganan MoU kemarin.

Daeng menegaskan, kerja sama ini merupakan awal kebangkitan kemandirian dengan penggalian potensi alam yang dimiliki bangsa Indonesia. Hal ini didasari bahan obat dan yang digunakan masyarakat saat ini mayoritas berasal dari impor sehingga apabila dapat diproduksi sendiri akan lebih baik.

“Ini murni berangkat dari kekayaan alam Indonesia. Ini yang strategis. Ini yang perlu didorong untuk menjawab kemandirian kita, dan IDI menganggap itu penting. Tonggak awal komitmen dan kemampuan, supaya kemandirian industri kesehatan tergerak. Kita nggak masalah munculnya dari mana. Kebetulan munculnya dari Kementan,” jelas Daeng. (Baca juga: IDI Sambut Baik Kerjasama Riset Eucaliptus dengan Kementan)

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Badan Litbang Pertanian Haris Sihabudin memberikan penjelasan terhadap varian produk eukaliptus yang telah dikembangkan Balitbangtan.

“Ada empat varian produk yang telah didaftarkan sebagai paten di Kemenkum HAM, formula aromatik antivirus, inhaler, serbuk, dan minyak atsiri eukaliptus,” papar Haris.

Sebagai informasi, Formula Aromatik Antivirus Berbasis Minyak Eucalyptus dengan nomor pendaftaran paten P00202003578, Ramuan Inhaler Antivirus Berbasis Eucalyptus dan Proses Pembuatannya dengan nomor pendaftaran paten P00202003574, Ramuan Serbuk Nanoenkapsulat Antivirus Berbasis Eucalyptus dengan nomor pendaftaran paten P00202003580, dan Minyak Atsiri Eucalyptus Citridora sebagai antivirus terhadap virus avian influenza subtipe H5N1, gammacorona virus, dan betacoronavirus.

Tekan Impor Obat

Daeng Muhammad Faqih menilai, penelitian Balitbangtan pada tanaman eukaliptus dapat mengurangi ketergantungan impor bahan obat. Oleh karena itu, ia menilai kerja sama ini akan menciptakan terobosan yang memberikan harapan dan dorongan terhadap Indonesia dalam memerangi wabah virus.

“Temuan kandungan pada tanaman eukaliptus oleh Balitbangtan telah menyadarkan kita bahwa kita kurang memanfaatkan produk dalam negeri yang kita olah sendiri,” katanya. (Baca juga: Heboh Kalung Anti Corona: Kementan Itu Baru Prototipe dan Bukan Obat)

Menurut Daeng, selama ini alat kesehatan dan obat-obatan di Indonesia hampir seluruh produknya diimpor dari berbagai negara. Impor terbanyak dilakukan dari China dan India. Padahal, selama ini Indonesia merupakan negara agraris yang kaya akan tumbuhan.

Oleh sebab itu, Daeng berharap tanaman obat yang ada di Indonesia bisa dibudidayakan untuk penelitian dam riset lebih mendalam dan memastikan kesehatan masyarakat tidak terus bergantung pada bahan impor.

“Ini menjadi tantangan kita, apakah ingin tetap bergantung pada impor ataukah ingin memberi peluang pada obat hasil dari dalam negeri. Saya sudah bicara dengan Pak Mentan untuk mendorong kemandirian bangsa di bidang industri kesehatan dan di bidang pelayanan kesehatan. Mudah-mudahan kemandirian bangsa di bidang obat-obatan di Indonesia dapat dibantu dengan kontribusi sektor pertanian,” terangnya.

Lebih lanjut Daeng menekankan, dunia kesehatan sebenarnya banyak menggunakan bahan dari Indonesia. Namun, sampai sekarang belum dibudidayakan untuk dilakukan riset. “Untuk itu, kami siap menggali potensi bangsa supaya betul-betul dimanfaatkan di dalam industri kesehatan ataupun dalam pelayanan kesehatan,” cetusnya.

Menurut Daeng, ada dua hal penting yang ingin dilakukan. Pertama, berkomitmen untuk mendorong semua inovasi yang berbasis riset anak bangsa dan harus didorong dan diteliti dengan baik. Kedua, supaya memberikan manfaat dari hasil riset kepada bangsa dan memanfaatkan sebesar-besarnya tantangan dan peluang yang sedang dihadapi. (Lihat videonya: Kapal Tak Bisa Sandar, Sapi Dilempar ke Laut)

“Barangkali sekarang inilah saatnya peluang kita bisa gali dan dorong penelitian dalam negeri supaya nantinya bisa dimanfaatkan oleh banyak masyarakat,” katanya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Hasan Aminuddin mengungkapkan upaya Kementan ini. Bahkan Hasan Aminuddin mendesak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk menindaklanjuti hasil temuan Kementan ini.

“Kementan dan Kemenkes ini harus segera melakukan sinkronisasi. Kalau memang produk ini sedang dibutuhkan oleh dunia kesehatan, ya harus secepatnya dilakukan (sinkronisasi) itu,” kata Hasan Aminuddin di sela Rapat Kerja Komisi IV DPR bersama Menteri Pertanian di Gedung DPR/MPR Senayan, Jakarta, Selasa (7/7/2020).