Apindo Sebut Ritel Gugur karena Perilaku Konsumen Berubah

By PUBinfo Redaksi 15 Jan 2019, 10:44:16 WIB | dibaca : 85 pembaca

Apindo Sebut Ritel Gugur karena Perilaku Konsumen Berubah

Ilustrasi gerai ritel. (CNN Indonesia/Safir Makki).

Jakarta - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai gugurnya gerai-gerai ritel yang terjadi awal tahun ini merupakan imbas dari persaingan bisnis ritel yang semakin ketat serta perilaku konsumen yang berubah.

Ketua Umum Hariyadi Sukamdani mengatakan persaingan antar ritel konvensional kian tajam karena masing-masing pelaku usaha ingin mengambil ceruk pasar yang kian sedikit setelah kehadiran e-commerce. Di sisi lain, perilaku konsumen berubah di era digital. Tak heran, banyak ritel yang harus menyerah dengan keadaan.

"Memang persaingan ritel ini sangat ketat. Di samping itu, perilaku pembeli sudah berubah, e-commerce tentu ada pengaruhnya. Maka itu, persaingan dalam sesama ritel konvensional juga semakin ketat," jelas Hariyadi, Senin (14/1).

Ia melanjutkan kondisi ini diperparah dengan kondisi daya beli masyarakat yang disebutnya masih belum membaik. Namun, ia enggan mengelaborasi lebih jauh mengenai faktor tersebut.

Berkaca pada data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal III kemarin, pertumbuhan konsumsi secara tahunan ada di angka 5,01 persen atau melemah dibanding kuartal sebelumnya 5,14 persen. Meski demikian, angka ini masih lebih baik ketimbang kuartal III 2017 sebesar 4,93 persen.

"Hal yang perlu dilihat adalah daya beli masyarakat juga ada pengaruh. Ini mengakibatkan beberapa ritel itu tidak bisa bertahan," imbuh dia.

Kendati demikian, ia yakin industri ritel tak akan menyerah begitu saja. Menurut Hariyadi, ada kemungkinan sektor ritel justru akan ekspansi melalui ranah e-commerce agar bertahan dalam persaingan.

"Bisa jadi seperti itu, karena kan ujung-ujungnya, usaha tentu akan mencari efisiensi," pungkas dia.

Sebelumnya, PT Hero Supermarket Tbk (HERO Group) menutup total 26 gerai ritelnya seiring dengan lesunya bisnis makanan yang dijual ritel modern itu. Dampaknya, 532 orang karyawan dirumahkan.

Manajemen Hero Supermarket mengaku bisnis ritel penjualan makanan turun hingga 6 persen. Akibatnya, perusahaan menanggung kerugian hingga Rp163 miliar pada kuartal ketiga tahun ini atawa lebih dari dua kali lipat kerugian kuartal III 2017, yakni Rp79 miliar.

Corporate Affairs GM Hero Supermarket Tony Mampuk mengatakan bahwa manajemen melakukan efisiensi demi keberlanjutan bisnis grup.

"Kami tutup semua, karena beban operasional tinggi dan kerugian semakin besar," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Minggu (13/1).

 

Sumber : cnnindonesia.com